Rabu, 29 Desember 2010

Sejarah Armor

Baju perang dalam bahasa Jepang disebut juga dengan yoroi.Diperkirakan baju perang yang ada di Jepang merupakan evolusi dari pakaian perang dari China daratan yang diperkenalkan berabad-abad lalu. Baju perang yang paling awal digunakan terbuat dari perunggu, terdiri atas pelindung torso dan juga helm tinggi yang berguna untuk mengurangi efek serangan dari pedang. Baju perang yang digunakan ada bermacam-macam
dan penggunaannya dibagi ke dalam kelas-kelas, yang tertinggi adalah Oo-yoroi (great armor) yang hanya boleh dipakai oleh samurai kelas tinggi atau orang terpandang. Oo-yoroi pertama kali digunakan pada abad ke-10, yaitu sekitar pertengahan sampai akhir jaman Heian. Penggunaan Oo-yoroi meluas ketika perang Genpei yang terjadi pada abad 12, pada saat itu permintaan akan baju perang mencapai puncaknya. Karena terbuat dari logam, baju-baju perang ini idealnya dipakai oleh pasukan pemanah yang berkuda, maka permintaan baju perang pun menurun ketika abd 15, dimana para samurai lebih banyak menjadi pasuka infanteri. Pada abad 16, Jepang mulai melakukan hubungan dagang dengan negara Barat. Masa itu dikenal dengan sebutan periode Nanban. Dengan adanya kontak dengan negara Barat, orang Jepang pun mengenal baju perang buatan barat dan mengombinasikan pemakainnya dengan perlengkapan baju perang Jepang. Penggunaan baju perang kembali populer ketika era Sengoku akhir, hal tersebut dikarenakan meluasnya penggunaan senjata api yang menggantikan tombak pedang (naginata) dan panah. Lain lagi pada era Keshogunan Tokugawa yang cenderung damai, dimana baju perang dibuat lebih rumit dan penuh detil dekoratif karena ditujukan untuk fungsi seremonial. Pada masa ini baju perang mewah banyak di produksi begitu pula dengan baju perang biasa yang dipakai oleh samurai rendahan dan prajurit infanteri. Baju perang masih digunakan oleh para samurai pemberontak saat Perang Bonshin dan Restorasi Meiji.

Baju perang biasanya didesain sedemikian rupa agar ringan (seringan-ringannya pun paling tidak 30 kg) dan memungkinkan untuk bergerak leluasa agar bisa menyabetkan pedang, memanah dsb tanpa meninggalkan fungsinya sebagai pelindung.Baju perang juga biasanya diwarnai dengan warna-warna mencolok seperti biru cerah, merah ataupun kuning. Sebelum mengenakan baju perang yang lengkap, seorang samurai biasanya mengenakan baju sutra yang ternyata mampu menahan efek serangan panah, kait, dan memudahkan untuk mencabut benda-benda tersebut bila menancap. Sebuah Oo-yoroi lengkap terdiri atas:

- Pelindung torso yang bagian bawahnya memiliki jumbai seperti rok, terdiri atas lapisan lempeng-lempeng logam.
- Pelindung bahu beberbentuk persegi empat yang menutupi hingga siku.
- Pelindung tangan logam.
- Sarung tangan pelindung dari tebasan pedang.
- Kabuto atau helm pelindung kepala.
- Obi untuk membawa katana (pedang) dan wakizashi (pedang pendek) juga untuk menyelipkan tanto (belati)
- Hakama yang dilapisi celana ketat didalamnya.
- Tabi (kaus kaki Jepang) dan zori (sandal jerami) untuk alas kaki.

Bagian yang paling mencolok dalam seperangkat baju perang adalah kabuto-nya. Kabuto adalah helm besi pelindung kepala dan dahi yang bentuknya seperti mangkuk. Kabuto dilengkapi dengan lubang di puncak kepala yang berfungsi untuk mengeluarkan rambut dari sana, juga dilengkapi dengan pelindung leher yang disebut dengan shikoro. Kabuto juga dilengkapi dengan hiasan diantaranya maedate, wakidate, atau ushirodate yang bisa dipasangi dengan lambang keluarga atau klan, atau juga pahatan berbentuk binatang, tokoh, mitos, doa, atau simbol lain. Keberadaan "tanduk" pada kabuto juga penting karena fungsinya untuk mengenali orang yang memakai kabuto tersebut. "Tanduk" ini bentuknya bermacam-macam, Shingen Takeda memiliki bentuk wajah oni dengan tanduk panjak mencuat, sementara Masamune Date memiliki bentuk bulan sabit besar, sebagian yang lain bahkan memakai huruf kanji sebagai simbol.
Sebelum menggunakan kabuto, biasanya kepala pemakainya dibalut dengan kain terlebih dahulu supaya keringat tak mengalir bercucuran. Keberadaan menpou yang dikenakan sebagai pelindung wajah juga penting. Menpou yang unik ini digunakan untuk menutupi bagian wajah dari bagian bawah mata hingga leher, lengkap dengan celah untuk lubang hidung, mulut, bahkan deretan gigi dan kumis palsu. Menpou biasanya terbuat dari kulit atau logam. Kabuto dan menpou Jepang bersama stahlhelm dari Jerman adalah benda-benda yang menginspirasi terciptanya sosok Darth Vader.

Seorang samurai dengan Oo-yoroi dan kabuto belum lengkap bila tak membawa pasangan katana dan wakizashi. Katana mulai dibuat pada jaman Muromachi (1392-1573) namun diperkirakan berasal dari pedang China jaman dinasti Tang. Katana berbentuk agak melengkung dengan sisi tajam di sisi lengkung yang terpanjang. Cara membawa pedang yang memiliki panjang bervariasi antara 60-73 cm ini adalah dengan menggantungkannya di sisi kiri tubuh dengan sisi mata pedang menghadap ke atas. Hal tersebut memudahkan para samurai untuk menghunuskannya dan menebas lawannya. Sementara itu, wakizashi adalah pedang dengan ukuran yang sedikit lebih pendek dari katana. Fungsinya adalah menggantikan katana bila pedang tersebut patah atau direbut musuh, namun ada juga yang menggunakan katana dan wakizashi sekaligus, seperti aliran dua pedang yang dikenalkan oleh Musashi Miyamoto. Pasangan katana dan wakizashi ini biasanya disebut dengan daishou, yang merepresentasikan status sosial dan kehormatan seorang samurai.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda