Rabu, 29 Desember 2010

Sejarah Origami

origami ternyata memiliki sejarah dan asal-usul yang panjang. Siapa tak kenal origami. Seni melipat kertas yang sangat populer di negeri sakura ini, merujuk pada seni melipat kertas menjadi suatu bentuk atau gambaran tertentu. Bentuk yang dimaksud bisa berupa hewan, tumbuhan, ataupun benda tertentu.

Origami dipercaya telah ada sejak kertas pertama kali digunakan, yaitu pada abad pertama cina. Tepatnya pada 105 m oleh ts’ai lun. Contoh-contoh awal origami yang berasal dari cina antara lain tongkang cina dan kotak. Pada abad ke enam, cara pembuatan kertas itu kemudian dibawa ke spanyol oleh orang-orang arab dan ke jepang (610 m) oleh seorang sami buddha bernama dokyo yang juga merupakan doktor peribadi ratu shotoku.
Perjalanan origami tradisional di jepang

di jepang, origami dipercaya telah ada sejak zaman heian (741-1191) di kalangan kaum sami shinto sebagai penutup botol sake (arak beras) saat upacara penyembahan, wanita dan kanak-kanak. Pada masa itu origami masih dikenal dengan istilah orikata, orisui ataupun orimono.

Pada masa itu memotong kertas menggunakan pisau diperbolehkan. Bentuk yang dikenal pada zaman kamakura (1185-1333) adalah noshi. Noshi adalah kependekan dari noshi-awabi, yaitu daging tiram nipis yang dijemur dan dianggap sebagai hidangan istimewa orang-orang jepang. Noshi dianggap sebagai pembawa keberuntungan pada siapa saja yang menerimanya.

Senjak zaman muromachi (1338-1573) penggunaan pisau untuk memotong kertas telah dihentikan. Origami kemudian berkembang menjadi suatu cara memisahkan masyarakat golongan kelas atas dan kelas bawah. Samurai mengikuti ajaran ise sementara masyarakat biasa mengikut ajaran ogasawara.

Dalam perkembangannya origami telah menjadi begitu identik dengan buday jepang, yang diwariskan secara turun-temurun dari masa ke masa. Origami terutama berkembang dengan menggunakan kertas asli jepang yang disebut washi.

Saat ini origami telah menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari budaya orang jepang. Terutama dalam dalam upacara adat keugamaan shinto yang tetap dipertahankan hingga sekarang.
 

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda